Sabtu, 21 Februari 2015

Tulisanku Untukmu IBU



Siapa yang tidak mencintai seorang Ibu? sungguh amat sangat berdosanya jika seorang anak berani menyakiti dan tak mencintai Ibunya. Miris ketika melihat dan mendengar cerita seorang anak yang menelantarkan Ibunya, menaruhnya di panti jompo, membiarkan Ibunya bekerja berat hingga usianya yang sudah sangat renta, bahkan cerita-cerita memilukan tentang anak yang berbuat kasar hingga tega membunuh seoarang ibu yang notabene adalah wanita yang lemah dengan fisiknya yang sudah makin menua.

Kita semua tahu, bahwa kita lahir ke dunia dari rahim seorang Ibu. Di awal kehamilannya ibu merasakan mual dan muntah hingga 4 bulan lamanya. selama 9 bulan, detik demi detik hari demi hari hingga hari kelahiran kita Ibu meraskan sakit yang hebat di perut dan pinggangnya karena ukuran janin semakin besar. kakinya membengkak, tubuhnya yang semakin lemah karena sari makanan dan darah ibu sebagian besar dialirkan ke janin.

Perjuangan terbesar ibu saat mengandung anaknya adalah dikala proses melahirkan, dimana seorang ibu diibaratkan sedang bertempur ke dalam medan perang, siap bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya ke dunia. Begitu besarnya pengorbanan seorang ibu maka salah satu kunci sukses hidup kita adalah keridhaan orang tua, terutama ibu kita.

Begitu hebatnya perjuangan seorang ibu, oleh karenanya layaklah jika kita sebut Ibu sebagai pahlawan sejati dalam kehidupan kita. Seorang pahlawan tidak selalu harus menjadi superhero yang berjuang melawan kejahatan. Tapi bagi saya seorang Ibu yang tulus dan ikhlas menjaga dan menyayangi kami anak-anaknya dengan begitu sabar, mendidik kami dengan ajaran-ajaran kebaikan, membuat kami tumbuh dewasa menjadi pribadi yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan, membuat saya berpikir bahwa ibu lah sebenar-benarnya pahlawan kita.

Ibu merupakan motivator terhebat dalam hidupku, dikala aku sedang terjatuh ibu tahu cara agar aku dapat bangun dan terus berlari, ketika aku bersedih ibu tahu cara menghibur agar aku kembali tertawa, ketika aku senang ibu selalu ingatkan bahwa kesenangan itu hanya sementara sehingga kita tak boleh takabur dan berlebihan merayakannya. Ibu selalu mengingatkan kami anak-anaknya akan hal-hal sederhana namun begitu prinsip supaya kami tidak keluar dari aturan yang dibuatnya. Ibu selalu menjadi penengah ketika kami anak-anaknya berkelahi, ibu selalu menjadi penyejuk didalam rumah sederhana kami.

Bagiku, ibu adalah orang yang hebat, selalu teringat dan terngiang ketika kami bertiga (bersama ke dua kakak) harus mengalami kenyataan yang pahit ketika Ayah meninggal. Aku menangis tiada henti tak kuasa menerima kenyataan yang harus dihadapi, begitu pula dengan kedua kakak-ku. Tetapi beruntung kami memiliki seorang ibu yang tegar, ibu yang selalu menyemangati kami saat kami dalam kondisi yang sangat down pada saat itu. Padahal aku tahu ibu lah yang paling merasa kehilangan saat Ayah meninggal, sampai-sampai ibu beberapa kali pingsan dari awal proses pengurusan jenazah sampai pemakaman. Bagaimana tidak, mereka telah hidup bersama selama 26 tahun lamanya. Suka duka telah meraka lewati bersama. Tetapi bersamaan dengan itu, ibu bisa kembali tegar demi anak-anaknya. Hari demi hari minggu demi minggu bulan demi bulan kami lewati bersama. Alhamdulillah, kini kami sudah bangkit dari kesedihan. Kami memulai kehidupan yang baru tanpa sosok seorang Ayah. In Shaa ALLAH kami semua sudah ikhlas menerima kepergiannya.


Tak ada kata yang lebih layak kami ucapkan kecuali rasa bersyukur dan terima kasih karena kami memiliki seorang Ibu yang baik, seorang ibu hebat yang membuat kami merasa selalu merindukan belaian kasih sayangnya. Walaupun kini kami telah dewasa tapi kasih sayang seorang ibu terbukti tak pernah sedikitpun berkurang. Beliau masih saja selalu ingin kami repoti, ada saja upaya yang dilakukan ibu untuk berusaha membahagiakan kami. Mulai dari memasakkan masakan kesukaan kami, membelikan baju, hingga hal-hal kecil yang sebenarnya sudah bisa kami beli dan kerjakan sendiri.

Ibu.. kami tak akan pernah bisa membalas semua jasa-jasamu. Dan kami tahu engkau juga tak pernah berharap apa yang selama ini ibu berikan suatu saat akan kami kembalikan. Hanya iringan doa yang bisa kami berikan, semoga engkau selalu sehat dan dapat menghabiskan masa tua dalam kebahagiaan. Ya Allah yang maha pengampun lagi penyayang, berikanlah kesehatan dan umur panjang kepada orang tua kami, ampunkanlah dosa-dosa kami dan dosa mereka para orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka selalu menyayangi kami sedari kecil hingga saat ini.

Terima kasih Ibu, dari anakmu yang selalu mencintai dan merindukanmu...



Sabtu, 08 November 2014




Spirit Cita-cita


Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak bisa terlepas dengan adanya cita-cita dan tujuan hidup. Cita-cita sendiri merupakan suatu spirit yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan, karena tanpa cita-cita, kita tidak akan bisa maju dan pastinya akan menjalani kehidupan yang monoton. Dengan memiliki cita-cita, maka akan ada semangat yang mendorong diri kita untuk bisa sukses dalam menjalani kehidupan ini.

Memang banyak orang yang memiliki tujuan hidup atau cita-cita, namun diantara mereka ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Biasanya, keberhasilan dan kegagalan yang terjadi akibat dari beberapa faktor, seperti: ekonomi, lingkungan, keluarga, kepercayaan diri, mentalitas dan tentunya ilmu pengetahuan.

Banyak orang yang berhasil dalam menggapai cita-citanya, hal tersebut karena mereka mampu untuk bekerja keras, sabar, dan pantang menyerah. “Bukan sejauh mana kita bermimpi, tapi sejauh mana kita berusaha mewujudkannya.” Mungkin kutipan tersebut pas menggambarkan spirit cita-cita. Untuk menggapainya, bukan hanya sekedar impian dan harapan, namun niat, usaha dan tekadlah yang mampu mewujudkan impian dan cita-cita. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memudahkan kita dalam mewujudkan cita-cita yang kita miliki. Dan jika kita melakukannya dengan niat yang baik, usaha yang keras dan tekad yang kuat, kita bisa menggapainya.